Sonata

•Maret 12, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Matahari terus sembunyi hari ini. Belakangan Jakarta jadi sedingin Bandung di akhir tahun delapan puluhan. Seperti surat kaleng saja, saya seolah melihat ada bintang lain tersenyum seusai konser Björk kemarin. Satu hal yang tak pernah diharapkan tapi bayangannya mungkin tak akan hilang sampai beberapa tahun ke depan. Karena begitu cerlang seperti cahaya bintang turquoise yang saya lihat dua belas april lima tahun lalu. Seakan ada api dan sonar di mata mereka, bersama aroma hujan menyusup ke aliran darah dan paru-paru, membuat langit abu seindah biru…

Meissa, kemarin sahabat kita Rigel menelfon jauh-jauh dari Tibet. Bahwa kawan itu seperti awan. Datang pergi sesuka mereka, tak perlu terlalu serius dengan sangka dan anggapan. Dia juga bilang tak perlu sayap putih seperti malaikat atau wajah Joseph agar orang menyayangi dan menghargai kita. Dan senja bukannya tak pernah menoleh, hanya saja belum saatnya dia datang. Kata-katanya itu benar-benar meringankan langkah kaki saya.

Sonata datang lagi lalu memeluk, dia bilang jangan pernah melupakan senja. Karena bagaimanapun dia masih punya ruang istimewa di hati saya…

-atsil-